TRAINING FIKIH MUAMALAH ON ISLAMIC BANKING AND FINANCE

Ikutilah!!! >>>> The 19th Training dan Workshop Fiqh Muamalah on Islamic Banking and Finance INTERMEDIATE LEVEL / 18 - 19 Februari 2011. BURUAN DAFTAR

Sabtu, 28 Agustus 2010

KISAH SUKSES: Women Leader in ICT Company

by Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia on Sunday, August 29, 2010 at 11:29am

Ita Yuliati, Presiden Direktur PT Alita Praya Mitra, adalah salah satu pewirausaha yang tak patah semangat membangun nama di kancah internasional. Alita menjajaki proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi mulai dengan kantor di garasi rumah pad tahun 1996 namun pada tahun 1996 Alita sudah menancapkan bisnisnya di Kamboja.

Alita menjajaki proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi di seluruh Kamboja setelah diminta pihak Indosat. Padahal momentum ini terjadi hanya setahun setelah dia mendirikan Alita dengan dua personil, yakni satu direktur yang tak lain Ita sendiri dan satu pramukantor.

Pada pertengahan 2005, Alita juga mulai menjajagi merambah pasar Eropa Timur, melalui Negara Hongaria. Karena Hongaria dianggap sebagai negara yang cukup strategis diantara negara-negara tetangganya, seperti Bosnia, Kroasia, Serbia, Macedonia, Bulgaria dll. Pada November 2007 lalu Alita akhirnya memutuskan mendirikan anak perusahaan di sana dengan nama Alita Europe Kft.

Ita mengakui dirinya sangat menyukai “tantangan”. “Jadi pada saat saya ke Kamboja, bukan negara “miskin” yang saya lihat dari Kamboja, namun opportunity yang ada di negara tersebut. Demikian pula pada saat saya ke Hongaria. Bukan Negara Hongaria-nya yang menjadi sasaran utama, namun justru negara sekitarnya, yang mana kondisi di negara-negara tersebut masih sedikit dibawah Indonesia. Sehingga kesempatan untuk membawa kompetensi Indonesia masih terbuka lebar,” katanya.

Pada saat mengadakan penjajagan bisnis, Ita juga memiliki prinsip unik. “Saya tidak pernah berpikir apa yang bisa saya jual,” katanya. Tetapi sebaliknya dia berpikir kerja sama apa yang bisa dilakukan di antara kedua pihak. “Karena saya pikir bahwa kerja sama jauh lebih berharga dari proyek itu sendiri,” katanya lagi.

Setelah berhasil go international, Ita tidak ingin bila kesempatan tersebut hanya dinikmati perusahaannya. Kalau bisa semua perusahaan di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing di pasar asing.

“Saya sangat gemas bila melihat perusahaan punya potensi dan produk bagus tetapi belum bisa dijual keluar, dan belum dikenal dunia luar, hanya dikarenakan kurangnya promosi” katanya. Baginya, “Brand Image” merupakan hal utama dalam bisnis. Ini pula yang mendasari Alita untuk terus mengikuti event-event penting seperti ICT Expo di Indonesia dan juga Communic Asia di Singapore. Target jangka menengah dari Alita adalah mengikuti Expo Internasional lainnya yang lebih besar lagi. Semakin banyak perusahaan yang go Internasional adalah semakin baik. Ita tidak takut pasar Alita direbut PT Inti ataupun yang lainnya. Karena dia tidak melihat perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pesaing. Sebaliknya dia membuat kerangka Indonesian incorporated dalam kepalanya. Saat ini Alita memiliki sembilan anak perusahaan dengan jumlah karyawan yang mencapai 450 orang. Buat Ita, visi perusahaan merupakan ” motivatornya” yang utama, dimana Alita telah mencanangkan untuk menjadi “Global Player”.

Selain menyelami dunia telekomunikasi dan TI, Ita juga memiliki bisnis sampingan yaitu restoran dan butik. Dia membuat rumah makan di Phnom Penh, Kamboja dengan nama Bali Café. Dari hitung-hitungan bisnis, Bali Café tidak berkontribusi besar dalam menyalurkan keuntungan. Tetapi dia bangga bisa mendirikan rumah makan tersebut karena di sana kerap dijadikan meeting point bagi seluruh orang Indonesia di Phnom Penh. “Duta besar Indonesia di Kamboja juga kerap mengundang duta besar negara lain makan di sana. Setiap delegasi kepresidenan datang ke Kamboja, panitia kerap memesan katering dari sana,” katanya.

Kegiatannya di Kamboja juga telah mengilhaminya mencoba bisnis sampingan lain, sekaligus menyalurkan hobinya dalam bidang fashion, yaitu membuka butik yang bernama Rumah Sutera di Dharmawangsa Square, Jakarta. Baginya dua usaha terakhir adalah penunjang bisnis sekaligus penyalur hobinya. Penunjang bisnis karena dia kerap menggunakan dua wadah bisnis tersebut menjadi salah satu tempat untuk menjalin networking. Sebagai penyalur hobi, karena Ita memang senang memasak dan fashion.

Foto: rd-indonesia.com

Dapatkan artikel KISAH SUKSES lainnya di Portal Wirausaha Indonesia, silakan klik http://jpmi.or.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar